ALINEA menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) secara daring pada Minggu, 28 September 2025, sebagai bagian dari program Voice of Mama-Mama. Forum ini menjadi ruang pertemuan awal yang mempertemukan beragam gagasan dan pengalaman, sekaligus menegaskan pentingnya menghadirkan perspektif perempuan adat Papua dalam perjuangan menjaga lingkungan hidup.
Peserta diskusi berasal dari tim Alinea Alinea, bersama narasumber FGD antropolog Universitas Indonesia Geger Riyanto; tiga penulis yakni Ni Made Purnamasari, Risma Dewi Purwita, dan Pratiwi Juliani; antropolog muda Annisa Shava Azzahra; serta Abyan Madani dari tim dokumenter visual. Serta panitia program sendiri diwakili oleh Deasy Tirayoh, Stebby Julionatan, dan Vaisnava Vidia Mahatma.
Membuka diskusi, Stebby memantik dengan menekankan bahwa narasi pembangunan selama ini belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat adat. Dari titik ini, forum berkembang menjadi ruang yang menyingkap bagaimana perluasan kebun sawit di Distrik Namblong telah menggerus aliran air dan mengancam wilayah adat yang menjadi tumpuan hidup warga.
Diskusi sesi pertama ini kemudian menyingkap persoalan yang lebih luas yaitu kuasa perusahaan besar yang terus melakukan alih fungsi lahan tanpa kontrol, serta lemahnya keberpihakan negara terhadap hak-hak masyarakat adat. Dari perbincangan ini tergambar jelas bahwa perempuan adat bukan sekadar saksi, melainkan garda terdepan yang merawat ingatan, menjaga tradisi, dan mempertahankan identitas budaya di tengah ancaman kehancuran hutan.
Antara Privilese Penulis dan Ruang Aman Komunitas Adat

Di sesi kedua FGD, dalam presentasinya, Geger Riyanto mengingatkan bahwa menulis masyarakat adat, khususnya di Papua, tak bisa dipisahkan dari sejarah panjang kolonisasi internal, perampasan lahan, dan ekonomi ekstraktif yang menjerat hidup mereka.
Antropolog yang mendalami kajian indigenitas ini lantas menyebut adanya marjinalisasi berlapis mulai dari persaingan antarsuku, kriminalisasi oleh negara, hingga polarisasi yang dibentuk oleh humas perusahaan. Semua itu mengubah kehidupan mendasar masyarakat Papua, dari pangan lokal yang tergantikan oleh makanan instan, hingga impian pendidikan dan pekerjaan yang kerap hanya menjanjikan semu.
“Militerisasi kehidupan di Papua terjadi dalam skala luar biasa. Ini bukan sekadar catatan pinggiran, melainkan realitas sehari-hari,” papar Geger.
Namun, saat berbicara tentang menulis, ia menekankan hal lain, yakni sadar privilese. Menurutnya, setiap penulis dari luar membawa bagasi berupa akses, sumber daya, dan cara pandang yang tidak dimiliki komunitas lokal. Karena itu, menulis tentang masyarakat adat tak boleh jatuh menjadi praktik ekstraktif yang hanya mengambil kisah tanpa mengembalikan manfaat. “Banyak mendengarkan, menciptakan ruang aman, dan menulis dengan kesadaran bahwa kita bukan pusat,” tegasnya.
Menurut Geger Riyanto, tulisan yang baik justru harus membuka percakapan, bukan menutupnya. Harus menyingkapi kompleksitas tanpa meromantisasi, dan yang terpenting, harus memberi tempat pada suara murni masyarakat.
Diskusi semakin hidup ketika selanjutnya Geger mengajukan pertanyaan reflektif: apa bedanya kita, orang luar dengan privilese panggung di Jakarta, dengan teman-teman Suara Grina yang sehari-hari bersama mama-mama Namblong? Mengapa bukan mereka yang langsung berpameran di pusat Jakarta? Pertanyaan ini membuka kembali perdebatan klasik dalam advokasi dan antropologi tentang kuasa suara, posisi orang luar, dan batas etika keterlibatan.
Di sini, ia menekankan pentingnya kejujuran dalam memetakan peran. Sebagaimana antropolog bekerja bersama asisten lokal, penulis atau fasilitator dari luar sebaiknya dipahami hanya sebagai moderator yakni penyedia ruang, bukan penguasa.
“Sering kali yang kita bawa hanyalah akses ke panggung, sebuah privilese yang tidak merata. Tugas kita memastikan panggung itu dipakai untuk suara mereka, bukan menggantikan mereka,” ujarnya.
Peran Sastra sebagai Narasi Tandingan
Pertanyaan kritis juga muncul dari penulis Pratiwi Juliani mengenai isu apa yang layak diangkat, mengingat realitas di lapangan kerap berlapis dan tidak semua warga terdampak sawit mengalami hal serupa?
Menanggapi hal ini, tim Alinea menekankan bahwa karya sastra tidak dimaksudkan untuk menyaring realitas, tetapi justru memperluasnya. Sastra diposisikan sebagai medium keberpihakan dan alat advokasi yang merekam suara perempuan adat yang paling terdampak. Di tengah ruang-ruang media arus utama yang kerap dibungkam, sastra dapat menjadi jalan lain, dengan mengubah kesaksian menjadi narasi perlawanan, menghidupkan cerita sebagai ingatan kolektif, sekaligus pernyataan sikap.
Sebelum forum ditutup, tim membahas rencana perjalanan residensi ke Papua, mulai dari logistik, akomodasi, hingga agenda kegiatan di lapangan. Tak lupa pula juga meninjau timeline proyek buku, dengan tenggat draft pertama pada 25 Oktober 2025, sekaligus mengklarifikasi soal hak cipta.
Percakapan pun ditutup dengan satu kesepahaman bahwasanya Voice of Mama-Mama adalah upaya kolektif untuk memastikan suara perempuan adat Papua hadir di ruang publik. Melalui ko-kreasi karya, program ini bertuuan sebagai bentuk advokasi, agar pengalaman perempuan adat tidak hanya tercatat, tetapi dapat dialih-wahana agar lebih bergema.***
Tim Publikasi Alinea


Leave a Reply