, ,

Alinea Hadirkan Program “Voice of Mama-Mama”

min read

Voice of Mama-Mama (Alinea)

Perempuan, sejak mula, adalah penjaga kehidupan. Dari tangan mereka benih dirawat hingga tumbuh kembali, dari pelukan mereka air dijaga agar terus menghidupi, dari ingatan mereka pengetahuan diwariskan lintas generasi. Namun, di tengah hiruk pembangunan dan dinginnya meja kebijakan, suara perempuan kerap menguap, seakan tidak pernah ada.

Padahal, perempuan adat menyimpan pengetahuan yang tak ternilai. Dari pengalaman dan ingatan mereka, jadi saksi bagaimana alam berubah, bagaimana hubungan manusia dengan lingkungan mulai retak, dan bagaimana harapan tetap dijaga melalui langkah-langkah sederhana, konsisten, dan hampir tak terlihat.

Dari kesadaran inilah lahir Voice of Mama-Mama, sebuah inisiatif kolaborasi Alinea dan Photovoices International, yang menjadi ruang bagi perempuan adat di Lembah Grime Nawa, Papua, untuk mengekspresikan laku hidup sehari-hari mereka menghadapi kerusakan tanah leluhur. Melalui karya sastra dan berbagai bentuk ekspresi, pengalaman tersebut tidak hanya dicatat, tetapi juga dialihwahanakan menjadi sarana untuk didengar, dihayati, dan memperkuat advokasi bagi lingkungan dan masyarakat.

Hal ini selaras dengan ungkapan Vandana Shiva: “We are either going to have a future where women lead the way to make peace with the Earth or we are not going to have a human future at all.”

Kita hanya punya dua pilihan: perempuan mengambil peran untuk berdamai dengan alam, atau manusia tak lagi punya masa depan.”

Vandana Shiva__

Sebagai aktivis lingkungan, Shiva menekankan bahwa perempuan, terutama yang hidup dekat alam, memiliki pengetahuan dan kemampuan vital dalam melestarikan keanekaragaman hayati serta sistem pangan lokal. Pandangan ini sejalan dengan tujuan Voice of Mama-Mama dalam menghadirkan suara perempuan adat sebagai corong kekuatan alam.

Seleksi Penulis Alinea

Setelah beberapa kali pertemuan untuk menggodog konsep, tibalah saat mencari anggota Alinea yang akan ikut dalam residensi ini. Dalam prosesnya, tim ingin hal tersebut berlangsung adil dan terbuka, yakni dengan memberikan kesempatan bagi seluruh anggota Alinea yang berminat untuk mengajukan gagasannya melalui open call proposal.

Untuk menjaga objektivitas, tahap seleksi dipercayakan kepada panitia independen. Tiga sosok yang didapuk menilai proposal adalah Amanda Katili Niode, Direktur Climate Reality Indonesia; Feby Indirani, jurnalis sekaligus penulis yang kerap mengangkat isu perempuan pada karyanya; serta Sihar Ramses Simatupang, sastrawan sekaligus jurnalis yang berpengalaman dengan isu dan realitas di Papua.

Proses seleksi ini berlangsung ketat, dengan mempertimbangkan sejumlah gagasan proposal yang diajukan para kandidat. Penilaian fokus pada relevansi gagasan serta kemampuan penulis dalam menghasilkan karya sastra berbagai bentuk: prosa, puisi, dan esai yang sejalan dengan tujuan utama dari program Voice of Mama-Mama. Keberagaman karya ini diharapkan dapat merefleksikan pengalaman perempuan adat yang terdampak perubahan lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam, sekaligus menggambarkan pandangan mereka terhadap masa depan yang lebih berkelanjutan.

Pada akhirnya, panitia seleksi memutuskan tiga nama penulis terpilih untuk menjalani residensi Voice of Mama-Mama.


Tiga penulis Alinea yang terpilih adalah Ni Made Purnama Sari, penyair sekaligus antropolog yang juga mengelola Bentara Budaya Yogyakarta; Risma Dewi Purwita, penulis prosa yang berprofesi sebagai guru di Sumba, Nusa Tenggara Timur; serta Pratiwi Juliani, novelis dan penulis naskah film, sekaligus Ketua Yayasan Kusala Sastra Khatulistiwa.

Mereka akan segera mengikuti residensi di Lembah Grime Nawa, yang berlangsung dari 30 September hingga 8 Oktober. Proses residensi ini dilakukan secara kolaboratif bersama Photovoices International, dengan pendampingan fasilitator lokal, perempuan adat Namblong, OPRA (Organisasi Perempuan Adat Papua), serta komunitas jurnalis warga Suara Grina.

Ko-Kreasi untuk Advokasi

Selama sepekan penuh, tim penulis dan tim produksi dokumenter visual akan mendengar cerita, menyelami kehidupan sehari-hari komunitas, dan kemudian menerjemahkan pengalaman itu ke dalam karya sastra berupa puisi, prosa, maupun esai, sebagai jejak yang lahir dari perjumpaan langsung dengan tanah dan warganya.

Melalui pendekatan ko-kreasi, program Voice of Mama-Mama akan menghasilkan buku kolase karya, video dokumenter, dan pameran. Seluruh proses ini dirancang tidak sekadar pendokumentasian, tetapi juga jadi sarana advokasi atas isu deforestasi serta dampaknya bagi kehidupan sosial dan budaya perempuan adat Suku Namblong, Papua..

Lebih jauh, Deasy Tirayoh selaku Penanggung Jawab Program, menyampaikan bahwa keluaran dari program ini diharapkan mampu membuka ruang bagi perempuan adat untuk menyuarakan kisah mereka sendiri. “Melalui rangkaian ini, kami berharap posisi perempuan dan komunitas dapat semakin kuat dalam wacana publik, yang selama ini jarang memberi ruang bagi pengalaman mereka,” ujarnya.

Sebagai tahap berikutnya, tim tengah menyiapkan Forum Discussion Group (FGD) 1 yang dijadwalkan pada Minggu, 28 September 2025, sebagai bagian dari pra-residensi Alinea. FGD ini bertujuan untuk menyatukan persepsi dan memperkuat koordinasi antara mitra lapangan, komunitas lokal, narasumber, antropolog, tim dokumenter visual, serta tim Photpvoices Indonesia.

Forum ini, menurut Deasy, menjadi tahapan penting untuk memastikan semua pihak memiliki pemahaman yang sama terkait tujuan, metodologi, dan output yang diharapkan dari program Voice of Mama-Mama.


Tim Publikasi ALINEA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *