SEBAGAI BAGIAN dari rangkaian residensi program Voice of Mama-Mama, tim penulis dan dokumentator Alinea mengikuti diskusi kelompok terarah (FGD) yang diselenggarakan di Balai Kampung Namblong, Lembah Grime Nawa. FGD ini dipandu oleh Stebby Julionatan dan melibatkan peserta lintas generasi dari Organisasi Perempuan Adat (ORPA) Namblong, Suara Grina, Buma, serta perwakilan masyarakat adat dari berbagai kampung.
Atas arahan Ketua Organisasi Perempuan Adat Namblong, Mama Rosita, FGD dibagi menjadi tiga kelompok untuk menjaga keamanan narasi dan sensitivitas informasi. Dua kelompok kecil berisi peserta yang mengalami peristiwa pada 1960–1980-an, dipisah antara laki-laki dan perempuan, ditempatkan di ruang tertutup karena materi yang menyangkut kekerasan dan intimidasi negara.
Sementara itu, kelompok terbesar yang terdiri dari generasi 1990-an hingga kini tetap berada di ruang utama. Sebagian besar tim Alinea berada pada kelompok ini.

Dalam kelompok generasi muda, pengalaman pertama disampaikan oleh Hilona, perempuan berusia 24 tahun yang kini aktif di Suara Grina. Ia mengaku tumbuh dengan anggapan bahwa relasi dengan pendatang baik-baik saja, hingga kemudian mengetahui pengalaman penindasan yang dialami orang tuanya pada masa transmigrasi. Melalui aktivitas organisasinya, Hilona menyaksikan langsung dampak ekspansi kelapa sawit di Namblong.
“Dulu sa pikir semua aman saja. Tapi setelah lihat hutan digunduli, baru sa mengerti apa yang orang tua alami,” ujarnya. Hilona menyebut kekhawatiran generasinya terkait hilangnya satwa lokal, penyusutan ruang hidup, hingga prioritas kerja yang lebih sering diberikan kepada transmigran. “Kalau sawit makin dekat, bagaimana dengan kami? Kesempatan kerja juga selalu dipersulit bagi orang asli Papua.”
Naomi, peserta lain, menguatkan pernyataan tersebut. Ia menyampaikan bahwa kehadiran toko ritel modern seperti Alfamidi dan Indomaret hanya membuka peluang kerja secara teori. “Kalau orang asli Papua yang melamar, persyaratannya dipersulit. Selalu ada cara untuk tolak orang asli,” ucapnya. Kondisi ini membuat sebagian besar masyarakat lokal akhirnya bekerja di perkebunan sawit meski mereka tahu dampaknya merusak lingkungan dan kehidupan adat.

Sesi plenary kemudian dibuka dengan pertanyaan pemantik dari Stebby: “Apa yang berbeda antara kehidupan dulu dan sekarang?”
Mama Deborah, guru PAUD dari Imsar, mengingat masa transisi pendidikan antara 1960–1995. Ia mencatat perubahan infrastruktur dasar, tetapi menekankan bahwa perubahan sosial akibat masuknya transmigrasi jauh lebih menentukan arah hidup kampung.
Suara paling tegas datang dari Abner, perwakilan masyarakat adat yang tumbuh pada masa tekanan rezim Orde Baru. Ia menggambarkan perampasan tanah yang dilakukan negara dan kekerasan yang dialami orang tuanya untuk memaksa pengakuan pelepasan ribuan hektar tanah adat.
“Orang Papua punya aturan dan budaya yang menghidupkan kami. Hutan dan tanah kami dirampas. Tanpa itu kami tidak hidup. Kami mau dikemanakan?” ujarnya. Ia menegaskan bahwa perampasan dilakukan negara, sementara transmigran “hanya dibawa tanpa tahu apa-apa”. Abner juga menyoroti pelanggaran negara terhadap batas-batas hutan marga, aturan adat yang bahkan sesama orang Papua tidak boleh melanggar.
FGD ini menjadi gerbang awal identifikasi isu berdasarkan pengalaman lintas generasi: kekerasan negara di masa lalu, luka sosial yang dibawa oleh perempuan, serta ancaman terkini berupa hilangnya tanah, ketimpangan ekonomi, dan diskriminasi struktural.
Kisah dan pengakuan yang direkam menjadi bagian penting dari dokumentasi Voice of Mama-Mama, yang bekerja untuk menghadirkan suara masyarakat adat Papua sebagai subjek pengetahuan, bukan semata objek kebijakan. ***
***Tim Publikasi ALINEA


Leave a Reply