Otina dan Nanga-Nanga menjadi titik berangkat perbincangan dalam Titik Temu #4 Alinea pada Minggu, 14 September 2025. Siang itu, sebuah rumah di Jalan Sinabung, Jakarta Selatan, menjelma ruang berbagi gagasan dan pandangan. Selama tiga jam, sejak pukul 11.00 WIB, percakapan khidmat memenuhi ruangan ketika Stebby Julionatan, Debra H. Yatim, dan Danny I. Yatim duduk bersama empat Kawan Alinea yakni Sisie, Takarina, Indri, dan Ocha. Semua yang hadir larut dalam obrolan hangat, menyingkap lapisan-lapisan cerita dari buku keenam seri Perempuan Penyintas 65, yang menghidupkan kembali ingatan perempuan terhadap sejarah yang kerap dipinggirkan.
Buku yang menghimpun catatan harian ini lahir dari komitmen pribadi Magdalena, tanpa sokongan dana hibah maupun penerbit besar. Ia menulis dengan tekad untuk merekam suara perempuan yang selama ini absen dari narasi sejarah arus utama. “Saya ingin memastikan kisah mereka tidak hilang, sebab terlalu lama sejarah hanya ditulis dari sudut pandang yang membisukan perempuan,” ujarnya.

Diakui Magdalena, jika perjumpaannya dengan kelompok paduan suara Dialita membuka jalan baginya mengenal kisah para perempuan penyintas, termasuk Rukiyah, mantan tahanan politik dari Sulawesi yang pernah dibuang ke Nanga-Nanga.
Ketertarikan perempuan yang pernah memimpin Komnas Perempuan ini pada kisah Rukiyah bermula ketika ia tinggal di Belanda. Saat itu, putri DN Aidit mengajukan pertanyaan sederhana: “Mau tidak menulis tentang Nanga-Nanga?” yang justru menjadi pemantik untuk menelusuri jejak yang terlupakan. Dari sana, lahirlah riset panjang dengan membaca literatur, melakukan wawancara daring, hingga menjejak langsung ke Kendari. Dalam perjalanannya, ia menemukan sebuah kontras: Nanga-Nanga kini terhubung jalan aspal dan harga tanahnya melonjak, namun luka sejarah tetap membekas melalui konflik agraria dan memori kolektif warga.
Proses penerbitan Otina dan Nanga-Nanga sempat tersendat karena keluarga Rukiyah khawatir kisah itu disalahgunakan. Namun, berkat dukungan cucu Rukiyah yang menegaskan pentingnya buku ini sebagai pengingat generasi muda, restu akhirnya diberikan. Magdalena menegaskan, proyek ini bukan soal keuntungan finansial, melainkan upaya menjaga ingatan agar nama-nama kecil yang terhapus dari sejarah tetap terdengar.
Sebagai penulis yang konsisten mengangkat isu perempuan dan keadilan gender, Magdalena yang lahir di Sumatera Utara ini sebelumnya telah melahirkan sejumlah karya penting dalam seri Perempuan Penyintas 65, di antaranya Onak dan Tari di Bukit Duri serta Jiwa-jiwa yang Bermartabat. Dengan Otina dan Nanga-Nanga, ia kembali meneguhkan komitmen untuk menyuarakan pengalaman yang kerap dipinggirkan.
“Bagi saya, menuliskan kisah perempuan penyintas adalah bagian dari upaya merawat ingatan,” tutur Magdalena. “Mereka terlalu lama dibungkam, dan suara mereka layak hadir dalam sejarah kita.”
“Bagi saya, menuliskan kisah perempuan penyintas adalah bagian dari upaya merawat ingatan,” tutur Magdalena. “Mereka terlalu lama dibungkam, dan suara mereka layak hadir dalam sejarah kita.”

Di penghujung acara, diumumkan bahwa Titik Temu berikutnya akan menghadirkan presentasi buku terbaru Danny I. Yatim, yang rencananya digelar di sebuah kafe di Jakarta Selatan. Menurut Stebby Julionatan, pemilihan kafe bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menghadirkan ruang alternatif bagi anggota Alinea untuk bertukar pikiran secara santai, merawat ingatan kolektif, sekaligus melahirkan kreativitas baru.
Stebby menutup pertemuan dengan sebuah refleksi: “Dengan demikian, Titik Temu #4 bukan sekadar forum literasi, melainkan ruang lintas generasi yang mempertemukan sejarah, sastra, dan pengalaman hidup para penyintas agar tetap hidup dalam ingatan bangsa.
Tim Publikasi ALINEA


Leave a Reply