Ruang Empu Sendok Art and Science (ESAS), Jakarta Selatan, menjadi saksi kembalinya sebuah karya sastra penting yang lama tersimpan dalam ingatan. Cerpen Joseviolis karya Debra H. Yatim, yang 35 tahun silam meraih juara pertama lomba cerpen ulang tahun ke-25 Harian Kompas, kembali diluncurkan, kali ini dalam format baru: sastra grafis.
Acara peluncuran berlangsung pada Kamis sore, 18 September 2025 ini menghadirkan diskusi lintas generasi tentang sastra, seni grafis, dan dinamika kebudayaan. Penerbit Sebermula, yang digawangi Kurnia Efendi, Wien Muldian, dan Kanti W. Janis, menggandeng ilustrator muda Dimas Pandu untuk memberi nyawa baru pada cerpen klasik tersebut.

Sebuah Karya yang Hampir Terlupa
Pertanyaan pembuka dari pemandu acara, Alfathir, seolah mewakili rasa penasaran banyak orang: “Mengapa setelah 35 tahun, cerpen Joseviolis akhirnya kembali hadir dalam bentuk buku?”
Pertanyaan itu dijawab langsung oleh Debra H. Yatim, penulis sekaligus anggota komunitas penulis Alinea. Ia menanggapinya dengan jujur, sederhana, namun penuh makna. “Saya sendiri sudah lupa punya cerpen itu. Baru ketika teman-teman menyinggung soal penerbitan Sebermula, barulah ingatan itu muncul kembali. Bahkan Sihar Ramses, seorang jurnalis sekaligus anggota Alinea, pernah bertanya kepada Kanti: kenapa bukan cerpen Debra yang diterbitkan?”
Debra kemudian menegaskan bahwa inisiatif ini tidak berawal dari dirinya. “Bukan saya yang bertanya, tapi Sebermula yang mencarinya. Untuk edisi awal, mereka memilih tiga naskah: Film Noir karya Iksaka Banu, Sang Patokan, karya saya yang kini kembali memakai judul Joseviolis , dan Kain karya Kanti W. Janis.”
Cerpen Joseviolis sendiri pernah mencatat sejarah penting. Pada 1990, ketika Kompas merayakan ulang tahun ke-25, lomba cerpen digelar untuk pertama kalinya. Joseviolis tampil sebagai pemenang, jauh sebelum tradisi Cerpen Pilihan Kompas resmi dimulai. Namun, seiring waktu, kisah itu perlahan tenggelam. Bahkan tokoh-tokoh yang terlibat langsung, termasuk Debra dan para redaktur Kompas, nyaris melupakannya.
“Hadiah waktu itu Rp300 ribu, tanpa plakat, hanya makan malam prasmanan, lalu salaman. Mas Dodo, suami saya, bahkan sempat menanyakan, mana plakatnya?” kenang Debra sambil tersenyum.
Apa itu Sastra Grafis?
Peluncuran Joseviolis dalam format sastra grafis menimbulkan perbincangan hangat. Roswisna Nimpoeno, salah seorang hadirin, melontarkan kegelisahannya: “Kalau sudah digambarkan, theater of mind kita kan jadi tidak main?”
Wartawan budaya senior Kompas, Efix Mulyadi, yang menjadi pembahas acara, memberikan perspektif berbeda. “Menulis itu tindakan berpikir. Tapi bangsa Indonesia masih lebih banyak menjadi masyarakat penonton,” ujarnya.
Efix, yang bertugas di Kompas sejak 1978 dan memimpin Bentara Budaya hingga 2011, mengakui ia sendiri sempat lupa bahwa Joseviolis pernah meraih juara pada 1990. Baru setelah Maria Hartiningsih mengirimkan dokumentasi arsip Kompas, ia memastikan bahwa cerpen tersebut memang tercatat sebagai pemenang.
Bagi Efix, kekuatan Joseviolis terletak pada kesederhanaan. “Bahasa Debra waktu itu adalah bahasa jurnalistik yang lugas, alurnya logis dari awal sampai selesai. Tidak rumit, tapi justru menyentuh inti konflik manusia: kemanusiaan,” jelasnya. Ia menambahkan, perdebatan kritis dengan Budi Darma dan Sapardi Djoko Damono kala itu memperkuat posisi cerpen ini di panggung sastra.
Ketika Sastra Bertemu Musik
Peluncuran di ESAS dihadiri puluhan orang dari kalangan penulis, pegiat budaya, dan publik pembaca. Musisi muda Javier Kerryu Kapitan turut memeriahkan acara dengan membawakan karya klasik Lalo Symphonie Espagnole dan Concerto Bach.

Wien Muldian, mewakili Sebermula, menyampaikan terima kasih kepada pihak tuan rumah. “Kami ingin berterima kasih kepada Ibu Felia Salim dan ESAS yang selama tiga hari memberi kesempatan pada kami untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Hari ini adalah peluncuran kedua, berikutnya Senin nanti giliran peluncuran cerpen grafis Kain,” ujarnya.
Rikard Bangun, Pemimpin Redaksi Kompas, yang juga hadir, menekankan makna dari format baru ini. “Ini bukan hanya soal teks atau gambar, melainkan bagaimana keduanya bisa memperluas pengalaman membaca.”
ESAS: Rumah bagi Pertemuan Lintas Disiplin
Sebagai ruang penyelenggaraan, ESAS tidak hanya sekadar gedung. Lembaga nirlaba yang berdiri pada 2017 ini didirikan oleh Felia Salim dan Inez Soma Llera dengan misi sebagai platform pertukaran pemikiran lintas budaya dan disiplin. Fokus utamanya pada seni kemasyarakatan, budaya, dan keberlanjutan, dengan cita-cita membangun masyarakat yang cerdas, berkelanjutan, dan berdaya.
Dalam beberapa tahun terakhir, ESAS mengembangkan berbagai program untuk mendukung konsep Bumi Sehat, Asupan Sehat. Salah satunya melalui proyek pertanian regeneratif sebagai jawaban atas kerusakan alam akibat penggunaan pestisida dan pupuk kimia berlebihan.

Awal 2025, ESAS menyelenggarakan rangkaian diskusi bertema Nalar Budaya untuk membicarakan implementasi Bumi Sehat, Asupan Sehat. Fellows ESAS, yang tersebar di seluruh Indonesia, mendampingi masyarakat untuk mempraktikkan perawatan bumi yang sehat demi meningkatkan ketersediaan pangan bergizi bagi keluarga.
Salah satu program unggulan ESAS berada di Papring, Banyuwangi, dengan basis pertanian regeneratif masyarakat. Inisiatif ini kini dikembangkan melalui kolaborasi bersama Sahabat Hijau di Aceh, menggandeng unsur pemerintah, LSM, dan kelompok masyarakat.
Sastra, Grafis, dan Masa Depan Literasi
Keterlibatan ESAS dalam peluncuran Joseviolis sejalan dengan visi lembaga ini: menghubungkan seni, budaya, dan keberlanjutan. Dalam rangkaian JaliJali Festival #2 yang berlangsung pada 15–22 September 2025 di Jakarta, ESAS membuka ruang bagi Sebermula untuk menggelar seri diskusi literasi “Dari Sastra ke Grafis, dari Grafis ke Sastra.”
Menurut Pipin Tobing, ilustrator yang terlibat dalam diskusi, proyek ini punya makna besar. “Sastra tidak hanya dibaca, tetapi bisa divisualisasikan. Ilustrasi bukan untuk menggantikan teks, tapi memperkaya makna yang sudah ada,” ujarnya.
Kurnia Efendi menambahkan, penerbitan tiga cerpen grafis ini adalah langkah ajakan kepada masyarakat untuk lebih dekat dengan sastra. “Kami ingin menunjukkan bahwa membaca bisa dilakukan dengan cara baru. Sastra tetap inti, grafis adalah jembatan. Kami tidak sedang mengurangi sastra, justru memperluas cara orang merayakannya,” katanya.
Peluncuran Joseviolis pun menjadi simbol pertemuan antara masa lalu dan masa depan sastra Indonesia. Di satu sisi, ia mengingatkan pada momen bersejarah ketika sebuah cerpen sederhana berhasil menggugah juri dan pembaca di tahun 1990. Di sisi lain, ia membuka ruang eksperimen baru: bagaimana teks bisa berdialog dengan gambar, dan bagaimana pembaca diajak menelusuri cerita melalui dua medium sekaligus.
Menyambung Ingatan, Membuka Jalan Baru
Tiga puluh lima tahun bukan waktu yang sebentar. Bagi sebagian orang, mungkin Joseviolis hanyalah fragmen dalam arsip sastra. Namun, dengan hadirnya buku ini, generasi baru pembaca berkesempatan menemukan kembali kekuatan bahasa sederhana yang menyentuh, diperkaya oleh interpretasi visual yang segar.
Seperti yang ditekankan oleh Rikard Bangun, esensi dari proyek ini bukanlah memilih teks atau gambar sebagai yang utama, melainkan bagaimana keduanya bersinergi memperluas pengalaman membaca.
Di tengah tantangan literasi yang kian kompleks, inisiatif Sebermula dan ESAS ini menunjukkan bahwa sastra masih punya daya hidup. Ia bisa bertransformasi, berkolaborasi, dan tetap relevan baik dalam bentuk teks yang murni maupun dalam format baru yang menjembatani imajinasi dengan visual.
Peluncuran Joseviolis bukan semata kelahiran kembali sebuah karya, tetapi jadi upaya menyambung kembali ingatan kolektif, membuka percakapan lintas generasi, dan merawat keyakinan bahwa sastra. Bagaimanapun wujudnya, tetap punya tempat penting dalam kebudayaan Indonesia.
Tim Publikasi ALINEA


Leave a Reply