Senin malam di Jakarta, 22 September 2024, Empu Sendok Art and Science (ESAS) dalam suasana akrab, menggelar diskusi menyoal sastra, grafis, dan kisah tentang manusia. Acara bertajuk Cerita Lain tentang Kain tersebut menandai lahirnya buku terbaru karya Kanti W. Janis berjudul Kain, yang diterbitkan oleh Sebermula dan kian hidup melalui ilustrasi puitis dari Yuyun Nurracman.

Perbincangan ini dipandu oleh Stebby Julionatan, yang dengan ringan mengawali percakapan dari dugaan awalnya. “Saya pikir Kain bercerita tentang anak Adam. Ternyata, kisah yang hadir sangat berbeda,” ujarnya, menimbulkan tawa kecil dari audiens.
Ternyata, dalam Kain, yang ditemui bukan sosok biblis, melainkan Ali, seorang pengungsi asal Yaman yang menetap di Oman. Dari flat sederhana tempat ia tinggal, Ali berjumpa dengan kain-kain batik Indonesia. Wastra itu bukan sekadar motif, melainkan pintu bagi imajinasi tentang kehidupan orang-orang yang tak ia kenal, namun terasa begitu dekat.
Kanti, yang berlatar hukum internasional sekaligus anggota Alinea, menuturkan kegelisahan yang melatarbelakangi lahirnya cerita. “Asumsi kita sering mengira negara-negara Arab tidak aman, apalagi bagi perempuan. Tapi di Oman, saya justru menemukan suasana yang nyaman, aman, dan manusiawi,” ujarnya. Dari pengalaman itulah benih Kain tumbuh, menjadikan batik Indonesia sebagai jembatan lintas bangsa, lintas pengalaman.

Selaku pengulas, refleksi tajam pun hadir dari Bambang Harimurti (BHM), jurnalis senior dan sesama anggota Alinea. Ia menekankan bahwa kain dalam cerita Kanti tidak bisa dibaca hanya sebagai benda. “Sebagaimana Nietzsche menggunakan onta, macan, dan bayi untuk melambangkan transfigurasi, kain-kain ini adalah ‘macan’ atau simbol perlawanan Ali terhadap dirinya yang lama,” ungkapnya.
Sementara itu, Yuyun Nurracman membuka sisi proses kreatifnya. “Saya selalu membaca sampai selesai sebelum mulai menggambar. Awalnya saya ingin satu halaman satu ilustrasi, tapi cerita menuntut yang lain. Ada ilustrasi yang butuh ruang lebih, ada yang cukup dengan sebuah tanda,” katanya, memperlihatkan bahwa teks dan gambar punya cara sendiri dalam bernegosiasi.
Percakapan kian hidup ketika audiens menanyakan soal distribusi Kain. Kanti menjelaskan dengan tenang, “Penerbitannya butik, dicetak sedikit demi sedikit. Saya ingin pembacanya mengalami pertemuan yang intim, bukan sekadar massal.”
BHM menanggapi dengan membawa ingatan sejarah. “Para pujangga baru juga pernah mencetak karyanya sedikit demi sedikit, bahkan mengantar sendiri. Dari yang kecil itu, lahir sebuah gelombang besar.”
Malam pun ditutup dengan perasaan bahwa Kain bukan hanya mengisahkan Ali, melainkan juga mengisahkan bahwa sehelai kain bisa menjelma perahu cerita, menyebrangkan pembacanya menuju pemahaman baru tentang identitas, rumah, dan kemanusiaan.**
**Tim Publikasi ALINEA.


Leave a Reply