Residensi Voice of Mama-Mama, Menelusuri Jejak Krisis Ekologis di Grime Nawa

min read

Tim Alinea dan Masyarakat Adat Lembah Grime, Papua.

SELAMA LEBIH DARI SEPEKAN, tim residensi Voice of Mama-Mama kolaborasi Alinea dan Photovoices International, telah melakukan pengumpulan data intensif di Lembah Grime Nawa, Papua. Peserta residensi dari Alinea terdiri dari Deasy Tirayoh, Stebby Julionatan, Ni Made Purnama Sari, Pratiwi Juliani, Risma Dewi Purwita, serta dua dokumentator visual, Abyan Madani dan Annisa Shava.

Tim menelusuri perubahan ekologis yang kian terasa, tekanan agraria akibat ekspansi perkebunan sawit, hingga gejolak sosial yang memengaruhi perempuan adat Namblong. Observasi dilakukan melalui kegiatan lapangan bersama Mama-Mama. Mulai dari mengikuti aktivitas di kebun, praktik pengumpulan tanaman obat, pemanfaatan hasil hutan, serta diskusi langsung mengenai perubahan cuaca, hilangnya hutan, dan dampaknya terhadap pangan dan kehidupan keluarga.

Pendokumentasian visual dilakukan paralel, menangkap detail keseharian: tangan yang menyeleksi benih, proses menenun, percakapan di teras rumah, hingga potret hutan yang terpotong oleh koridor-koridor industri.

Mama Rosita, merespons ketika sesi FGD dibuka dengan pertanyaan tentang perbedaan kehidupan dulu dan sekarang, “Kami orang Papua hidup dari aturan dan budaya kami sendiri. Hutan dan tanah itu yang membuat kami bisa hidup. Sekarang semuanya diambil. Kalau hutan dan tanah hilang, kami hidup dari apa? Kami harus ke mana?”

Tanda tanya itu menjadi pintu masuk untuk melihat betapa lapisan cerita ekologis di Papua selalu bertaut dengan sejarah kolonialisme dan konflik agraria.

Dari Cerita ke Advokasi

Penanggung jawab program Voice of Mama-Mama, Deasy Tirayoh, menegaskan bahwa meski waktu residensi relatif singkat, proses penggalian kisah berlangsung intens dan terukur.

“Kami bekerja cepat, tapi tetap hati-hati. Setiap cerita yang kami dengar selalu kami cek lagi di lapangan dan kami rekam dengan baik. Dari proses yang padat itu, suara Mama-Mama muncul sebagai cerita yang mereka sendiri ingin sampaikan. Tugas kami hanya membantu agar cerita itu bisa sampai ke lebih banyak orang.”

Salah satu peserta penulis, Risma Dewi Purwita, menggambarkan bagaimana kompleksitas informasi di lapangan membuat proses penulisan menantang: “Informasinya sangat banyak dan datang sekaligus. Kadang kami bingung harus mulai dari mana. Masalah lingkungan di sini selalu terhubung dengan cerita tentang kolonialisme dan hilangnya tanah. Dari situ saya paham, satu pertanyaan kecil saja bisa membuka sejarah panjang yang masih memengaruhi hidup Mama-Mama sampai sekarang.”


Pandangan serupa datang dari antropolog peserta residensi, Annisa Shava, yang melihat bagaimana setiap perubahan lingkungan menyentuh langsung tubuh dan kehidupan perempuan adat. “Perempuan Namblong adalah penjaga pengetahuan: mereka tahu sumber pangan, tanaman obat, cerita keluarga, sampai letak-lekak hutan yang penting. Jadi ketika hutan hilang, yang hilang bukan hanya tempat, tapi seluruh sistem hidup yang mereka rawat dari generasi ke generasi. Dari kacamata etnografi, pendokumentasian seperti ini penting karena membantu kita melihat apa yang benar-benar terancam di balik perubahan itu.”

Dalam prosesnya, progream Voice of Mama-Mama akan mengolah hasil residensi melalui pendekatan sastra, dokumentasi visual, dan metode pendampingan komunitas maupun warga setempat yang antusias melibatkan diri.

Tim berupaya menjadikan pengalaman hidup perempuan adat sebagai basis pengetahuan sekaligus bahan advokasi. Dari residensi singkat ini, muncul cerita-cerita yang tidak hanya merekam kehidupan, tetapi juga menjadi pelantang bagi suara Mama-Mama Namblong yang selama ini kerap tersisih dari pembahasan publik mengenai Papua.

Temuan Utama Selama Residensi

Berikut ringkasan temuan awal yang dicatat tim selama residensi:

  • Deforestasi aktif: pembukaan lahan kebun sawit menyebabkan hutan primer Namblong menyusut drastis dalam satu dekade terakhir.
  • Perubahan pola pangan: hasil kebun menurun, warga harus membeli kebutuhan pokok yang sebelumnya tersedia dari hutan.
  • Pengetahuan tanaman obat terancam hilang: banyak spesies tanaman tidak lagi ditemukan di titik-titik lama.
  • Ketergantungan pada pasar meningkat: Mama-Mama mengaku lebih sering bergantung pada barang dari luar.
  • Gangguan terhadap tanah leluhur: batas adat menjadi kabur karena ekspansi perkebunan.
  • Beban adaptasi ekologis jatuh kepada perempuan: mereka harus menempuh rute lebih jauh untuk mencari bahan pangan dan obat.

Temuan ini akan dihimpun dalam bentuk tulisan, fotografi, dan dokumenter pendek untuk membuka diskusi publik mengenai keadilan ekologis dan keberlanjutan hidup perempuan adat Papua.

Proyeksi Karya

Voice of Mama-Mama menargetkan publikasi karya pada 2026, dengan fokus pada penyampaian cerita perempuan dari perspektif mereka sendiri, bukan dari narasi pembangunan yang ditentukan pihak luar.

“Ketika publik membaca atau melihat dokumentasi ini, kami ingin mereka tahu bahwa isu ekologis di Papua tidak bisa dipisahkan dari suara perempuan adat,” ungkap Deasy.
“Mereka bukan objek dampak. Mereka adalah sumber pengetahuan dan saksi utama perubahan alam.”

Residensi ini adalah langkah awal dari rangkaian kerja jangka panjang untuk memastikan suara Mama-Mama Papua terdengar dalam perumusan kebijakan, advokasi lingkungan, dan percakapan publik nasional. ***

***Tim Publikasi Alinea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *